Sabtu, 07 Juli 2012

Kisah Cinta Terlarang: " Suami Aji Daun Jati " Ah, suami cap apa si Boni, 56 tahun, dari Demak ini. Cuma karena digigit dan dicakar bini saja, kok lapor polisi. Padahal laporan itu justru menelanjangi dirinya sendiri. Sebab dari situ terungkap bahwa dia memang lelaki aji godong jati (masih berharga daun jati). Sudah pengangguran, masih kena penyakit DRS Med lagi. Pantesan istrinya, Wiwik, 43 tahun, minta cerai. Tanda-tanda keretakan rumahtangga Boni-Wiwik terlihat sejak tiga tahun lalu, ketika si suami terkena PHK dari kantornya. Untungnya istri Boni ini bekerja sebagai pegawai negeri, sehingga meskipun pesangon dari perusahaan kelewat kecil, kuali di dapur tak sampai terguling. Buat sementara waktu Wiwik bisa menutupi segala kebutuhan keluarga. Istri Boni sebetulnya sudah cukup pengertian, bisa menerima kondisi suami dan apa yang terjadi dianggapnya sebuah cobaan. Cuma, Boni menanggapinya lain lagi. Sebagai lelaki yang selama ini sangat dominan dalam keluarga, jiwanya terbanting ketika dia kini harus disuapi oleh istri. Bayangkan, istri yang mustinya hanya mamah dan mlumah kok kini terbalik jadi tulang punggung keluarga. “Suami cap apa kamu ini,” begitu hati nuraninya selalu bicara. Ketiadaan harga diri Boni ternyata berimbas pada urusan ranjang. Biasanya selalu perkasa dan gagah bak kudanya Pangeran Diponegoro, kini dia menjadi sangat letoy. Biasanya seminggu masih bisa menjalankan sunah rosul 3 kali, kini seminggu sekali belum tentu. Yang paling payah, sudah frekuensinya menurun, Boni terkena penyakit DRS Med alias dereng rampung sampun medal (ejakulasi dini). Akibat penyakit baru si Boni, rumahtangganya jadi tak harmonis lagi. Selain Wiwik tak memperoleh lagi kenikmatan syahwati, belakangan Boni suka ngadi-adi (manja) dalam urusan makan. Kini kalau tak ketemu ayam goreng di rumah, marah-marah. Padahal dulu, dibikinkan semur jengkol saja sudah senang sekali. “Semur jengkolmu enak sekali, Ma…,” begitu dulu sanjung Boni ketika masih suasana pengantin baru. Hari-hari selanjutnya Boni jadi gampang marah, padahal itu sesungguhnya hanya akal untuk menutupi kekurangannya selama ini. Ya kurang dalam soal materil, ya kurang dalam soal nafkah onderdil. Bila selisih pendapat dengan istrinya, Boni kini sudah berani main pukul. Padahal dulu ketika pacaran, baru Wiwik kesandung batu, yang diomeli habis-habisan ya batunya tersebut. Istri cap apapun pasti stress menghadapi suami macam Boni. Begitu pula Wiwik yang tinggal di Desa Pucanggading Kecamatan Sayung ini. Daripada tiap hari serasa hidup di neraka bersama Boni, dia berniat minta cerai saja. Soal anak yang akan jadi korban, tak diperhitungkan benar. “Biar saja, toh mereka sudah membawa garis rejekinya masing-masing,” kata Wiwik. Dasar Boni. Gagasan gila istrinya itu bukan dianggap sebagai peringatan agar dia mengubah sikap. Justru dia makin rajin main tendang dan tempeleng. Katanya, sampai kapanpun dia takkan menceraikan Wiwik. Padahal sesungguhnya, bukan saja takut kehilangan cinta dari istrinya, tapi karena takut kehilangan sumber penghasilan. Soalnya, kalau Wiwik bukan lagi istrinya, siapa lagi orang yang mau ngingoni (memberi makan) dirinya. Oleh karenanya segala proposal dan usaha Wiwik untuk menuju jalan perceraian selalu ditolak. Tapi dalam setiap omongannya, Boni selalu menandaskan bahwa kalau perceraian itu sampai terjadi, kasihan anak-anak akan jadi korban. Dia sama sekali tak mau tau perasaan istrinya, yang merasa tertekan lahir dan batin. “Ibarat kendaraan, saya ini oleh suami sekadar nggo duwe-duwe (bukti memiliki), tapi jarang dinaiki…,” kata Wiwik ketika curhat pada teman akrabnya. Lima hari yang lalu kekesalan Wiwik mencapai puncaknya. Sudah usulan cerainya ditolak, Boni masih main tempeleng pula. Kali ini terpaksa dia unjuk kekuatan. Bila biasanya hanya mengalah, kini Wiwik balas mencakar muka suami, bahkan ditambah menggigit tangan segala. Di sinilah kelucuan itu terjadi. Wiwik yang ditempeleng tak pernah mengadu ke polisi, Boni baru dicakar dan digigit sudah lapor ke Polwiltabes Semarang. Benar-benar lelaki ayam sayur, dia. Alatnya saja lelaki, tapi sebetulnya dia kalah berharga dengan daun jati! Cerita adalah : "KISAH NYATA" Sumber : http://beritaseru.blogspot.com/
Kisah Cinta Terlarang: " Ketika Gagal Mbelah Duren " Pengantin lelaki paling goblog se Kabupaten Tangerang (Banten) mungkin Samin, 32 tahun, seorang. Bayangkan, hanya gara-gara Tina, 20 tahun, istrinya belum mau diajak “mbelah duren” langsung saja dieksekusi di pinggir kali. Padahal kalau dia sabar sedikit, duren yang halalan tayiban wa asyikan itu musti jadi miliknya sampai ke biji-bijinya. Eloknya wajah dan bodi yang menawan dari seorang wanita, di manapun akan selalu membuat lelaki mabok kepayang. Itu pula yang terjadi di Desa Sukadamai Kecamatan Cikupa. Kemunculan Tina yang cantik dan bodinya oke punya, selalu menjadi bahan pembicaraan lelaki muda di sana. Banyak yang bermimpi beristrikan gadis kembang kampung itu, bahkana ada yang sampai terbasah-basah. Lelaki paling mujur kala itu adalah Samin. Meski usianya terpaut 12 tahun dengan Tina, dia mampu menundukkannya sehingga gadis itu mau bertekuk lutut dan berbuka paha untuknya. Para kontestan lain, harus minggir ketika janur kuning benar-benar melengkung di rumah Tina. Samin kini memang telah menjadi suami definitip Tina. Maka hari itu dia merupakan lelaki paling bahagia se Kabupaten Tangerang. Umum dan khalayak ramai melihatnya memang begitu. Tapi bila mau berkata sejujurnya, Samin berhasil mendapatkan Tina karena melalui permainan tidak sehat. Boleh percaya boleh tidak, urusan “coblos mencoblos” non pemilu ini ternyata diwarnai pula oleh money politic dari kubu Samin. Kasarnya, Perjaka tua itu bisa memperoleh cinta Tina akibat pendekatan keuangan lewat jalur orangtuanya. Kalau itu sebetulnya Tina sudah memiliki pacar sendiri, sehingga dia menolak aspirasi arus bawah Samin. Tapi orangtuanya yang sudah dilobi dan diduit oleh Samin, terpaksa menekan putrinya untuk mau jadi bini Samin. “Kamu jadi bini dia, bakal terpenuhi segala kebutuhanmu, dan adik-adikmu bisa ikut numpang bahagia bersamamu,” begitu kata enyak dan babe. Apapun alasan Tina, tak direken. Tahu-tahu dia duduk di pelaminan, bersanding dengan Samin. Padahal di lain tempat, dia membayangkan kekasihnya tengah patah hati sambil mendendangkan lagunya Benyamin S almarhum. “Maaf, kutak dapat memenuhi undangan, dalam malam pesta perkawinanmu. Lihat kau bersanding, tak tahan jiwaku menangis, menangis….. Doa kukirimkan dalam kerinduan, semoga kau bahagia di bawahnya…..” Tetapi benarkah demikian perasaan kekasih Tina di seberang sana? Auah gelap. Yang jelas, Tina sangat berduka melewati detik-detik malam resepsi itu. Sebab dia yakin seyakin-yakinnya, setelah para tamu usai, pasti Samin mengajak serangan umum non satu Maret yang sudah jadi haknya. Padahal Tina sudah berprinsip, tak direlakan sesentipun suami menyentuh tubuhnya. Sebab cinta dan hatinya hanya untuk doinya seorang. Itu pula yang terjadi saat malam pertama berlangsung. Meski tidur seranjang, dia tak mau didekati Samin. Bahkan ketika suaminya meraba kakinya, diketahui Tina mengenakan celana jins rangkap dua. Ketika Samin kemudian merayu dan mengajak hubungan intim, dia beralasan sedang lampu merah. Ketika suami ngotot mau membuktikan, dia ngomong ketus. “Memang memeram buah-buahan, ditengak-tengok melulu,” kata Tina kesal dan memunggungi suami. Ketika bedug subuh ditabuh, Samin belum juga mendapatkan yang jadi haknya. Begitu pula malam-malam berikutnya, gawang pertahanan Tina susah sekali dibobol, sepertinya yang menjaganya si Nelson Dida dari AC Milan, gitu.. Sampai malam ke tujuh Tina terus saja mempertahankan gawangnya. Sewaktu Samin mencoba memaksa menerobos masuk, eh di sana sudah nyengenges kiper Gianluigi Buffon dari Juventus. Akhirnya habis sudah kesabaran Samin. Kenapa istri yang halalan tayiban kok malah wa merepotkan? Uangnya mau kok goyangnya ogah. Bila lelaki lain mencoba bersabar danl konsultasi ke dokter Naek L. Tobing yang ahli naik-naikan, dia malah mau melenyapkan Tina dari muka bumi. “Masa uangku sudah kubuat cuci gudang, kok batal goyang…,” gerutu Samin. Hari naas itu pun tiba. Pura-puranya Tina diajak ke rumah orangtuanya. Tapi di jalan sepi dan pinggir kali, tiba-tiba wanita pengantin baru itu dipukul helm hingga sempoyongan. Sudah itu disusul jab dan swing ke tubuh Tina hingga tewas. Untuk menghilangkan jejak dia mengubur mayat istrinya di tanggul. Tapi karena kurang dalam akhirnya mayatnya terbawa arus dan terbongkarlah kejahatan Samin. Ketika Gagal Mbelah Duren Pengantin lelaki paling goblog se Kabupaten Tangerang (Banten) mungkin Samin, 32 tahun, seorang. Bayangkan, hanya gara-gara Tina, 20 tahun, istrinya belum mau diajak “mbelah duren” langsung saja dieksekusi di pinggir kali. Padahal kalau dia sabar sedikit, duren yang halalan tayiban wa asyikan itu musti jadi miliknya sampai ke biji-bijinya. Eloknya wajah dan bodi yang menawan dari seorang wanita, di manapun akan selalu membuat lelaki mabok kepayang. Itu pula yang terjadi di Desa Sukadamai Kecamatan Cikupa. Kemunculan Tina yang cantik dan bodinya oke punya, selalu menjadi bahan pembicaraan lelaki muda di sana. Banyak yang bermimpi beristrikan gadis kembang kampung itu, bahkana ada yang sampai terbasah-basah. Lelaki paling mujur kala itu adalah Samin. Meski usianya terpaut 12 tahun dengan Tina, dia mampu menundukkannya sehingga gadis itu mau bertekuk lutut dan berbuka paha untuknya. Para kontestan lain, harus minggir ketika janur kuning benar-benar melengkung di rumah Tina. Samin kini memang telah menjadi suami definitip Tina. Maka hari itu dia merupakan lelaki paling bahagia se Kabupaten Tangerang. Umum dan khalayak ramai melihatnya memang begitu. Tapi bila mau berkata sejujurnya, Samin berhasil mendapatkan Tina karena melalui permainan tidak sehat. Boleh percaya boleh tidak, urusan “coblos mencoblos” non pemilu ini ternyata diwarnai pula oleh money politic dari kubu Samin. Kasarnya, Perjaka tua itu bisa memperoleh cinta Tina akibat pendekatan keuangan lewat jalur orangtuanya. Kalau itu sebetulnya Tina sudah memiliki pacar sendiri, sehingga dia menolak aspirasi arus bawah Samin. Tapi orangtuanya yang sudah dilobi dan diduit oleh Samin, terpaksa menekan putrinya untuk mau jadi bini Samin. “Kamu jadi bini dia, bakal terpenuhi segala kebutuhanmu, dan adik-adikmu bisa ikut numpang bahagia bersamamu,” begitu kata enyak dan babe. Apapun alasan Tina, tak direken. Tahu-tahu dia duduk di pelaminan, bersanding dengan Samin. Padahal di lain tempat, dia membayangkan kekasihnya tengah patah hati sambil mendendangkan lagunya Benyamin S almarhum. “Maaf, kutak dapat memenuhi undangan, dalam malam pesta perkawinanmu. Lihat kau bersanding, tak tahan jiwaku menangis, menangis….. Doa kukirimkan dalam kerinduan, semoga kau bahagia di bawahnya…..” Tetapi benarkah demikian perasaan kekasih Tina di seberang sana? Auah gelap. Yang jelas, Tina sangat berduka melewati detik-detik malam resepsi itu. Sebab dia yakin seyakin-yakinnya, setelah para tamu usai, pasti Samin mengajak serangan umum non satu Maret yang sudah jadi haknya. Padahal Tina sudah berprinsip, tak direlakan sesentipun suami menyentuh tubuhnya. Sebab cinta dan hatinya hanya untuk doinya seorang. Itu pula yang terjadi saat malam pertama berlangsung. Meski tidur seranjang, dia tak mau didekati Samin. Bahkan ketika suaminya meraba kakinya, diketahui Tina mengenakan celana jins rangkap dua. Ketika Samin kemudian merayu dan mengajak hubungan intim, dia beralasan sedang lampu merah. Ketika suami ngotot mau membuktikan, dia ngomong ketus. “Memang memeram buah-buahan, ditengak-tengok melulu,” kata Tina kesal dan memunggungi suami. Ketika bedug subuh ditabuh, Samin belum juga mendapatkan yang jadi haknya. Begitu pula malam-malam berikutnya, gawang pertahanan Tina susah sekali dibobol, sepertinya yang menjaganya si Nelson Dida dari AC Milan, gitu.. Sampai malam ke tujuh Tina terus saja mempertahankan gawangnya. Sewaktu Samin mencoba memaksa menerobos masuk, eh di sana sudah nyengenges kiper Gianluigi Buffon dari Juventus. Akhirnya habis sudah kesabaran Samin. Kenapa istri yang halalan tayiban kok malah wa merepotkan? Uangnya mau kok goyangnya ogah. Bila lelaki lain mencoba bersabar danl konsultasi ke dokter Naek L. Tobing yang ahli naik-naikan, dia malah mau melenyapkan Tina dari muka bumi. “Masa uangku sudah kubuat cuci gudang, kok batal goyang…,” gerutu Samin. Hari naas itu pun tiba. Pura-puranya Tina diajak ke rumah orangtuanya. Tapi di jalan sepi dan pinggir kali, tiba-tiba wanita pengantin baru itu dipukul helm hingga sempoyongan. Sudah itu disusul jab dan swing ke tubuh Tina hingga tewas. Untuk menghilangkan jejak dia mengubur mayat istrinya di tanggul. Tapi karena kurang dalam akhirnya mayatnya terbawa arus dan terbongkarlah kejahatan Samin. Cerita adalah : "KISAH NYATA" Sumber : http://beritaseru.blogspot.com/
Kisah Cinta Terlarang: " Oknum Tentara " Aneh betul kelakuan oknum TNI satu ini. Baru dipacari saja tidak boleh, lha kok oleh Pratu Gombloh, 27 tahun, anak orang malah dihamili sekalian. Keruan saja ayah Yasmin, 20 tahun, jadi mencak-mencak. Lebih mencak-mencak lagi ketika tahu pacar putrinya itu sudah punya anak istri. Mak dirodok kata ortu Yasmin sambil melapor ke Polresta Bogor. Tentara atau TNI sebetulnya profesi terhormat. Tapi karena tugasnya sangat beresiko tinggi, kadang bertaruh nyawa demi membela negara, banyak juga orangtua yang tak siap punya mantu tentara. Maklum mereka hanya membayangkan resikonya saja. Meski kematian di tangan Illahi, tapi kalau putrinya tiba-tiba jadi janda akibat mantunya gugur di medan tugas, ih ngeri juga. Itulah pula yang menjadi alasan ayah ibu Yasmin berkeberatan anaknya pacaran dengan Pratu Sarmudi. Tapi karena cinta memang di atas segalanya, gadis dari Tanah Sereal Bogor itu nekad saja pacaran dengan prajurit saptamargais tersebut. Di benak Yasmin, biar sekarang pangkatnya baru prajurit satu, siapa tahu nanti Gombloh bisa jadi letnan, kapten, mayor, kolonel, atau malah jenderal yang menjabat di Pangdam. Karena cintanya pada Yasmin, Pratu Gombloh terus saja memacari gadis itu meski berseberangan dengan calon mertua. Caranya, ya main di bawah tanahlah. Dia kucing-kucingan dengan Pak Sibun, 54, selaku calon mertoku. Bahkan yang membesarkan hati Pratu Gombloh, dia akan tetap menunggu sampai kapanpun, sampai orangtuanya sadar dan mau menerima kekasihnya sebagai menantu. Akan tetapi ternyata prinsip Pak Sibun tak pernah goyah. Dia tetap tak bisa menerima Gombloh jadi menantu meski pemuda itu sudah berpangkat tinggi sekalipun. Lantaran sudah saling mencinta, dua sejoli tersebut lalu menempuh jalan pintas. Bukan kawin lari, tapi Yasmin benar-benar “dikawini” sebelum resmi menjadi istri. Alasannya, kalau putrinya kadung hamil pastilah kemudian diijinkan. Hampir setiap ada peluang, oknum TNI itu lalu menembak Yasmin dengan “senapan” laras pendeknya. Tapi karena di dunia militer juga dikenal pasukan cadangan, maka sambil menunggu melumernya hati Pak Sibun, Pratu Gombloh ini menciptakan pacar cadangan. “Kalau aku gagal kawin dengan Yasmin, kan masih ada cewek lain yang menjadi pengobat cintaku,” begitu prinsip Gombloh. Jahat sekali rencana tentara muda ini. Dan karena dia memang termasuk lelaki mahir pacaran, dengan waktu cepat sudah memiliki pacar cadangan. Ternyata beda sekali calon mertoku yang satu ini. Begitu tahu putrinya sudah ditempel prajurit saptamargais, langsung saja mendesak diresmikan. Tak punya alasan bagi Pratu Gombloh untuk menolak, sehingga tanpa setahu Yasmin keduanya pun menikah resmi. Enak sekali kini kehidupan asmara Gombloh. Sudah punya istri, masih punya pacar yang mau diperlakukan seperti istri. Dengan demikian senapan laras pendeknya selalu terjamin, karena bisa nembak sana bisa nembak sini. Apa lagi dalam soal ini, setiap peluru yang dilepaskan tak perlu dipertanggungjawabkan, sehngga Pratu Gombloh bisa nembak kapan saja dan di mana saja. Dor, dor, dor, jlepppp…! Lambat atau cepat, perselingkuhan gaya Gombloh akan menuai badai pula. Sementara dari istri resminya telah memiliki anak bayi, eh tahu-tahu Yasmi melapor bahwa dirinya telah hamil. Gadis itu bahagia sekali karena “usaha”-nya telah berhasil dan Pak Sibun ortunya pasti lalu menerima Pratu Gombloh sebagai menantu meski secara berat. “Gombloh memang selalu berhasil,” kata Yasmin seperti iklan blueband tahun 1960-an. Ironisnya, ketika dikabari hal itu Pratu Gombloh malah sedingin salju. Dia tak merespon lagi perjuangan kekasihnya. Bahkan ada kesan, sekarang dia selalu menghindar dengan alasan yang tetek dan bengek. Dan yang membuat Yasmin shock, ternyata Gombloh kekasihnya sudah memiliki istri dan anak. Lalau bagaimana nasib diriku, begitu batin si gadis malang. Tak peduli akan dimarahi, kini dia terpaksa mengadu pada ayahnya tentang kondisi perkembangan perut terakhir. Sebetulnya hati Pak Sibun hendak melumer dengan pernyataan putrinya itu. Tapi begitu tahu Pratu Gombloh ternyata sudah berkeluarga, dia jadi marah besar. “Apa aku bilang, oknum TNI satu ini memang tak jujur sedari awal,” kata sang ayah sambil siap-siap melapor ke Polresta Bogor. Akan dikemanakan janin di perut Yasmin ini, nantinya Pak? Cerita adalah : "KISAH NYATA" Sumber : http://beritaseru.blogspot.com/
Kisah Cinta Terlarang: " Air Susu Dibalas Susu " Sungguh, hatinya hancur berkeping-keping laksana batu split. Kadarsih, 42 tahun, dari Bekasi (Jabar) ini sama sekali tak menyangka bahwa teman yang ditolong dari kesengsaraan, malah menggunting dalam sarung. Bayangkan, tega-teganya Indri, 38 tahun, main selingkuh dengan suaminya, Pardan, 50 tahun. Apa ini namanya bukan: air susu dibalas dengan susu? Inilah aksioma dalam kehidupan. Kata orang tua, siapa menanam bakal menuai, siapa berbuat kebaikan bakal dibalas dengan kebaikan pula. Di era gombalisasi sekarang ini, belum tentuuuu! Semuanya tergantung kebutuhan. Tak ada teman abadi dalam tata pergaulan dunia ini, yang ada hanyalah kepentingan. Mau berteman karena duit, tak ada duit ya silakan njengkelit. Tapi bagi Kadarsih yang tinggal di Permata Hijau Permai, Kaliabang Tengah, itu tak berlaku. Ketika seorang temannya asal sekampung terlunta-lunta di Ibukota, dia berusaha menolongnya. Sebelum Indri dapat pekerjaan di Jakarta, dia memberi jaminan tempat tinggal secara gratis. “Pokoknya anggap saja seperti di rumah sendiri,”, kata Kadarsih pada temannya sepermainan di masa kecil. Indri tentu saja sangat berterima kasih pada budi baik temannya itu. Namanya juga orang numpang, sambil mencari pekerjaan dia juga berusaha bantu-bantu urusan rumah keluarga sahabatnya tersebut. Misalnya, seterika, nyapu dan mencuci piring. Ingin sebetulnya dia bantu juga ngepel dan mencuci baju, tapi Kadarsih melarang. Katanya, Indri itu seorang teman, bukan pembantu. Antara 2-3 bulan persahabatan teman sekampung itu berlangsung aman-aman saja. Masalah muncul ketika suami Kadarsih mulai berulah. Soalnya begitu tahu Indri dalam status janda cerai, dia mulai mbagusi kata orang Jawa atau gumasep menurut orang Sunda. Dia merasa sok paling tampan, karena melihat Indri itu juga termasuk janda cakep. “Sekali-sekali boleh dong buat menu tambahan,” begitu batin Pardan. Tak bisa dipungkiri, dalam hatinya Pardan memang tertarik pada janda Indri yang seksi menggiurkan itu. Setiap dia setrika atau nyuci piring, suami Kadarsih ini suka mencuri pandang, mencermatinya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lalu dia mendekat ke tempat cucian dengan pura-pura tangannya kotor. Selanjutnya minta tangannya minta diberi sabun oleh Indri. Padahal dalam kesempatan itu dia ambil kesempatan meremas-remas tangan si janda. Dasar…! Indri rupanya tak sadar bahwa sedang dikerjai suami temannya. Dia baru sadar aspirasi arus bawah Pardan, ketika tanpa diminta Pardan menawarkan diri mengantar ke tempat dia memasukkan lamaran kerja. Takut dicurigai macam-macam, kala itu Indri juga minta izin pada Kadarsih. “Oo nggak apa-apa, biar cepet daripada kamu naik angkot,” malah begitu kata Kadarsih tanpa syak whasangka. Kelanjutannnya sungguh beda. Bila kemarin-kemarin selalu minta izin pada Kadarsih, ketika Pardan makin agresip mendekatinya, Indri jadi lupa diri. Maklum, sekian tahun tanpa lelaki di ….atasnya, dia rupanya kesepian juga. Maka sekali waktu ketika Pardan mengajak hubungan intim bak suami istri, dilayani saja. Di sinilah kemudian terjadi penjungkirbalikan peribahasa, dari air susu dibalas air tuba menjadi: air susu dibalas dengan susu! Akan tetapi, sekali waktu Pardan kena batunya. Saat dia mengencani Indri di kamarnya, kepergok oleh anak lelakinya yang masih balita. Pardan pun mengancam agar bocah itu tidak bercerita pada ibunya. “Kamu jangan cerita ke mana-mana ya. Kalau cerita, awas kamu, bapak nggak ngasih uang jajan lagi deh,” ancam Pardan pada anaknya. Hanya beberapa waktu lamanya saja bocah itu bisa memendam rahasia. Ketika Pardan yang pegawai Dephub itu mulai jarang pulang dan tak lagi memberi uang jajan, bocah itu bercerita pada ibunya. Ny. Kadarsih tentu saja terkaget-kaget, apa lagi kini Indri sudah mengontrak rumah sendiri dengan alasan sudah dapat pekerjaan. Ketika dicek ke rumahnya, masya Allah, Pardan sore itu ada di sana dudu mesra bersama. Yakin akan perselingkuhan suaminya, Ny. Kadarsih segera melapor ke Polres Bekasi. Cerita adalah : "KISAH NYATA" Sumber : http://beritaseru.blogspot.com/
Kisah Cinta Terlarang: " Maut Sebelum Pelaminan " Keluh kesah orang patah hati memang begitulah, sulit dilukiskan dengan kata. Namun demikian janganlah meniru kelakuan Diding, 28 tahun, dari Bogor ini. Hanya karena kekasihnya mau dikawinkan dengan lelaki, dia dendam membara pada Yuyun, 24 tahun, si calon pengantin. Dengan alasan tak rela membayangkan doinya digauli lelaki lain, sekalian dibunuh saja gadis itu sebelum tiba di pelaminan. Etika dan moral sering dikesampingkan ketika orang hendak mencapai tujuan, termasuk dalam urusan cinta. Segala cara dilakukan, tak peduli itu haram. Ini pula yang kemudian menjadi obsesi Diding, warga Mulyabarja, Bogor Selatan. Setelah tahu kekasihnya, Yuyun, gagal total menjadi miliknya, dia malah ingin melenyapkan sekalian. “Daripada aku gagal memilikinya, mending semuanya tak berhasil mendapatkannya,” begitu dia bertekad. Yuyun yang tinggal di kampung Cibeureum Sunting, Mulyabarja, sebetulnya sudah beberapa waktu lamanya menjalin cinta dengan Diding yang masih warga sekampung. Tapi pacaran mereka masih sebatas di bawah tanah, belum dideklarasikan di alun-alun. Maklum, si cowok masih minder pada kondisinya kini. Pekerjaan belum jelas, kok naksir anak keluarga terpandang di kampung itu. Kalau ditolak kan malu ati jadinya. Oleh karena itu, pacaran Diding melawan Yuyun ini masih kucing-kucingan. Si cowok baru berani datang ke rumah doinya ketika ayahnya kerja di kantor dan ibunya dagang di pasar. Tapi kadang sial juga bagi Diding. Hari kerja mestinya orang pada di kantor, ayah Yuyun malah meliburkan diri. Akibatnya kacau dah jadwal acara Diding hari itu. “Kecian deh lu…..,” kata Yuyun suka meledek kekasihnya. Gemes sebetulnya Diding melihat peruntungannya. Kenapa mau pacaran saja kok tidak berani terbuka? Tapi kenapa pula nasibnya demikian jeblok? Dalam usia menjelang kepala tiga kok belum punya pekerjaan tetap? Yang bener aja, belum kerja kok mau “ngerjain” anak orang. Calon mertua cap apapun pasti tak sudi punya menantu pengangguran. Mau cari teman hidup atau mau numpang hidup? Yuyun sendiri sangat menyimpan rapat skandal asmaranya bersama Diding. Itu pula sebabnya enyak dan babe tak pernah tahu bahwa putrinya sudah punya kekasih. Karenanya, ketika ada cowok bonafid dan ganteng “menanyakan” Yuyun, langsung saja diterimanya. Entah kenapa, ayah ibunya jadi slonongboi seperti itu. Mestinya sebelum menerima lamaran kan klarifikasi dulu pada si anak selaku pihak terkait. Anak harus nurut sama orangtua, mungkin begitu pendapat mereka. Walhasil ketika rencana perkawinan itu disampaikan pada Yuyun, gadis cantik kembang kampung itu tak bisa menolak. Mau menjelaskan bahwa sudah punya doi, Yuyun sendiri kurang pede mengingat status sosial Diding yang belum layak. Dia pasrah saja dan terima nasib. “Aku kan makhluk perempuan, gerak dan langkahku sangat terbatas,” kata Yuyun bagaikan gadis angkatan Siti Nurbaya saja. Mestinya ketika perubahan politik itu telah terjadi, Yuyun segera memberi tahu Diding, meski pahit sekalipun. Tapi dia tidak, rencana orangtua itu tetap disimpannya saja. Sampai kemudian Diding tahu sendiri berdasarkan informasi dari mulut ke mulut. Dia lalu mencoba klarifikasi pada Yuyun. Ternyata gadis pujaan itu mengiyakan sambil minta maaf karena tak berani menyampaikan berita duka itu pada Diding kekasihnya. Ancur-ancuran hati Diding jadinya. Dia marah pada nasib buruknya, dia jengkel pada Yuyun yang tidak terbuka, padahal keduanya sudah sering buka-bukaan. Diding merasa tak sanggup menyaksikan Yuyun nantinya digandeng dan digauli pihak lain. Daripada tubuh mulus kembang desa itu dinikmati orang, mendingan semuanya gagal memilikinya. “Ke Tanah Abang membeli kain, di balik kain tangan diremas. Aku berang kamu jadi pengantin, sebelum kawin nyawamu impas,” begitu ancam Diding. Hati Diding terus membara. Beberapa hari lalu Yuyun dipancing untuk ketemu dengan alasan sebagai perpisahan. Tapi begitu sigadis datang dan diajak ke tempat sepi, langsung dicekik hingga tewas. Ironisnya, dalam kondisi Yuyun sudah jadi mayat, masih tega juga Diding “mbelah duren” alias memperkosanya. Habis itu baru mayat sang kekasih dilempar ke sawah hingga ditemukan orang. “Di dunia lain saya kelak akan ketemu,” kata Diding ketika kemudian dibekuk polisi Polresta Bogor. Cerita adalah : "KISAH NYATA" Sumber : http://beritaseru.blogspot.com/
Kisah Cinta Terlarang: " Jinak-jinak Merpati " Meski serumah di tengah malam, lelaki perempuan bukan suami istri ini tak sampai hubungan intim. Tapi karena suami Aryani, 30 tahun, tak rela ada lelaki lain menginap di rumah tanpa seizinnya, Widodo, 35 tahun, itu pun dilaporkan Pak RT dan digerebek. Hampir saja digebuki warga, untungnya polisi Polres Banyumas segera turun tangan. Tapi dari situ Widodo jadi tahu bahwa Aryani memang wanita jinak-jinak merpati. Kelihatannya “mengundang” tapi ketika diajak “giring templek” malah terbang! Ini kisah rumahtangga yang terlalu klasik, tentang seorang istri yang bermain api dengan pria lain karena suami jauh di kota lain. Untungnya, meski rumahtangga itu hampir terbakar, tapi sesungguhnya di sana belum ada kolor terlepas dan rok melorot. Di hati Aryani memang masih ada iman. “Cukuplah yang melorot itu genting-genting rumah penduduk yang terkena imbas gempa di daerah DIY dan Jateng,” kata batinnya seusai diinterogasi di Polsek Gumilir, Banyumas. Mimpi buruk Aryani dimulai sejak Lasman, 34, suaminya pindah pekerjaan di Jakarta. Idealnya memang, ke lobang tikus pun istri harus ikut. Tapi karena gajinya belum cukup untuk kontrak rumah, terpaksa Lasman belum bisa memboyong keluarganya ke Ibukota. Kalaupun menyusul juga, tunggu setelah tanggal 6 Juni 2006 lah, karena konon di hari itu akan terjadi bencana alam besar-besaran di ibukota negara. Prinsip Lasman, kalau matipun biar dia sendiri, jangan sampai anak istri terbawa-bawa. Penawar rindu dan kangen pada keluarga, terpaksa hanya bisa disalurkan Lasman sebulan sekali, dengan sistem PJKA alias: Pulang Jumat Kembali Ahad. Di situ dia bisa setor benggol (uang) dan bonggol buat istrinya. Cuma kadang kala apes juga nasib Lasman. Pas dia pulang kampung dengan mengusung sejuta rindu, eh di rumah istri pas kena “lampu merah”. “Rong dina nang ngumah, inyong ndomblong baenlah (dua hari di rumah terpaksa bengong saja),” kata Lasman sekali waktu. Irama kehidupan seperti ini sudah dilakukan Lasman-Aryani tidak kurang dari 3 tahun lamanya. Meski tidak nyaman, tapi karena kondisinya memang harus demikian, ya bagaimana lagi. Aryani sendiri untuk membunuh sepi mencoba aktif dalam berbagai kegiatan, dari bezuk orang sakit, pengajian, PKK di kelurahan, arisan dari tingkat RT/RW sampai TK. Pokoknya dibuat selalu sibuk, agar tidak kampiran setan! Adalah Widodo, lelaki yang kemudian jadi setan rumahtangga. Dia merupakan bekas pacar Aryani. Meski Widodo juga sudah berumahtangga, demi mendengar pola kehidupan Aryani, dia merasa dapat peluang. Dalam asumsinya, wanita jauh suami pasti selalu kesepian. Dengan demikian bolehlah “nempil”, mereguk kenikmatan syahwati yang selama ini tak terpenuhi. “Kalau yang minta mantan, masak dia menolak,” kata Widodo yang tinggal di Cilongok itu yakin benar. Tatkala suami Aryani di Jakarta, Widodo meneleponnya dan keduanya asyik ngobrol ngalor ngidul, bersnostalgia peristiwa-peristiwa 7 tahun lalu. Aryani ketawa-ketiwi sambil tiduran, sementara anaknya main mewarnai gambar. Ujung-ujungnya, kalau Widodo tak menanyakan warna baju yang dikenakan Aryani, juga minta cium lewat udara. Tapi istri Lasman mahir berkelit. Jawaban klasik “memangnya nyampai”, sungguh penggalan kata yang membuat Widodo makin penasaran. Itu belum cukup. Beberapa kali Widodo juga berhasil mengajak Aryani jalan-jalan meski dengan membawa anak lelakinya yang masih usia 3 tahunan. Mereka lalu makan di restoran. Tapi ketika Widodo kemudian mengajak “chek in” ke hotel, Aryani menolak dengan alasan membawa anak kecil. “Apa tega kita begituan di depan anak?”, kata Aryani yang bikin Widodo mati kutu. Kenekadan Widodo terus berlanjut. Menghadapi Aryani yang “jinak-jinak merpati” sekitar pukul 21.00 dia sengaja bertamu ke rumahnya di Tlaga Kecamatan Gumilir. Kembali keduanya asyik ngobrol ngalor ngidul di ruang tamu. Dengan alasan tak ada angkutan umum lagi, Widodo minta izin menginap. Aryani terpaksa menyilakan, tapi demi keamanan, kamarnya langsung dikunci dari dalam, takut ada gerilyawan Tamil nggrumut ke kamarnya. Apes bagi Widodo. Sekitar pukul 04.00 pagi Lasman pulang dari Jakarta. Dia sangat tersinggung demi melihat bekas pacar istrinya tidur di situ tanpa seizin dan setahunya. Pak RT pun lalu dilapori, dan warga ramai-ramai menggerebegnya. Kalau saja pihak Polsek Gumilir tak segera mengamankannya, niscaya Widodo babak belur. Dalam pemeriksaan mereka mengaku tak berbuat macam-macam. “Kamar saja saya kunci dari dalam, Pak..,” kata Aryani yang berhasil menyelamatkan Widodo dari sel polisi. Hampir saja merpati jantan nan ngeyel itu masuk kurungan. Cerita adalah : "KISAH NYATA" Sumber : http://beritaseru.blogspot.com/
Kisah Cinta Terlarang: " Mimpi Buruk ABG " Alim benar Taslim 15 tahun, sebagai ABG. Baru mimpi berubah dengan wanita saja merasa berdosa hingga strees. Usut punya usut, penyebabnya adalah Rosella 30 tahun, bibinya senidiri. Sebab wanita yang sudah berkeluarga itu suka tampil sembarangan di depan ponakanya yang baru gede. Nah, gara-gara bermimpi menggauli bibi sendiri, Sobir pun tak bisa tidur berhari-hari. Taslim memang masih muda. Ibarat ayam, usia kemanggang, begitu. Seperti lazimnya ayam jago muda, setiap melihat ayam betina lewat, langsung nggaya. Padahal dia punya “taji” belum tumbuh sempurna. Tapi namanya juga jago muda, ayam babon itu lalu dikejar-kejar untuk dipatuk dan kemudian dikawini di tempat sampah. Ilmu Taslim sebagai ABG zaman sekarang memang demikian “kaya”. Bila pemuda angkatan sebelumnya puas dengan membaca stensilan, Taslim ini bisa memuaskan selera libidonya melalui jaringan internet. Melalui situs-situs porno dia bisa membuka adegan-adegan syur anak manusia dalam pakaian Adam dan Hawa. Mencari gambar cewek telanjang model apa saja, dunia maya selalu memfasilitasi, tinggal kuat-kuatan bayar pulsa. Kelakuan pelajar SMP di Bogor ini semakin menjadi ketika dia belakangan rajin main ke rumah tantenya, Ny. Rosella, di bilangan Bekasi. Kenapa gerangan? Asal tahu saja. Di rumah itu dia bisa memperoleh dari yang di internet. Bila di dunia hanya gambar mati tak bergerak, di rumah tante Rosella, Taslim bisa mencuri-curi pandangan adegan porno yang sudah layak ditentang APP (Anti Pornoaksi dan Pornografi). Apa sih yang dilihat Taslim di rumah tantenya itu? Ini sebetulnya bagian dari kesembronoan Rosella. Mentang-mentang di rumah sendiri, dia kalau mandi suka tidak mengunci pintunya. Atau suka duduk ngongkong sehingga “segi tiga pengaman”-nya terlihat dengan mudah oleh mata lelaki non suami. Dan yang tak kalah bikin pusing mata lelaki, malam hari Rosella suka mengenakan daster transparan. Hil-hil yang mustahal tersebut tentu saja sering membuat si ABG Taslim jadi pusing. Dengan dada bergemuruh dia suka curi-curi, menikmati pemandangan yang jarang nemu tersebut. Dari sekelebat celdam tantenya hingga baju tidur yang transparan. Paling bikin pemuda itu tambah pusing, ketika dia memergoki tantenya di kamar mandi sedang telanjang karena mandi. “Sori, aku lupa mengunci pintunya,” kata Rosella tanpa merasa jengah. Rosella yang ganjen dan sembrono itu tak urung membuat si ABG Taslim jadi teringat terus akan pemandangan spektakuler itu. Bahkan kemudian terbawa dalam mimpi. Yang unik, dalam mimpi itu Taslim merasa kencan dengan bibi sendiri, sampai kemudian si bibi hamil. Pemuda ABG itu pun langsung panas dingin karena merasa harus bertanggung jawab atas segala perilakunya. Ironisnya, meski hanya sekadar mimpi, kepanikan Taslim terus terbawa sampai ke alam nyata. Begitu bangun tidur dia jadi stress, sampai lupa makan dan perangainya pun berubah drastis. Pemuda yang selama ini ceria, mendadak jadi pemurung. Biasanya tiap minggu ke Bekasi ke rumah tante, kini lebih banyak Taslim ngendon dalam kamar. “Kamu sakit ya…?” kata ibunya beberapa hari lalu. Namun Taslim tak mau mengaku problem apa yang sesungguhnya tengah membelit dirinya. Meski didesak, dia tak mau buka kartu pada orangtuanya. Baru pada temannya bernama Galih dia mau bercerita akan kesulitan yang dialaminya. Di sana diceritakan bagaimana ulah tantenya selama ini, bagaimana dia bermimpi menggauli bibinya hingga hamil. Ujung dari curhat ini, Taslim berpesan agar kisah itu dirahasiakan. Dasar anak ABG, pesan Taslim tak dipatuhi Galih. Dia cerita pada ibunya, dan ibunya pun segera menyampaikannya pada ibu Taslim. Malu juga wanita ini akan ulah anak lelakinya. Sementara putranya dimarahi dan kemudian dinasihati, tak urung Rosella juga diomeli ibunya Taslim, karena begitu ceroboh membawa diri. “Aduh kasihan Taslim, kok jadi begitu ya. Saya kok ya juga lupa, seperti tak pernah muda saja,” kata Rosella di ujung telepon. Uh, dasarrrrrr! Cerita adalah : "KISAH NYATA" Sumber : http://beritaseru.blogspot.com/