Jumat, 06 Juli 2012

Kisah Kasih Suami - Istri: Kisah Nyata : Cinta Suamiku mengalahkan Maut dalam Hidupku Pernikahan tidaklah seindah seperti yang dibayangkan oleh dr.Tini Setiawan, seorang dokter umum yang dibesarkan oleh ibu yang dominan yang membentuknya menjadi wanita tomboy dan mandiri. Konflik dan pertengkaran selalu mengisi hari-hari pada lima tahun pertama pernikahannya, hal ini membuatnya hampir saja menyerah dan berniat mengakhiri ikatan kasih dengan sang suami. “Karena konflik yang berkepanjangan, bahkan karena hal-hal kecil dan masalah pengambilan keputusan, hingga saya merasa rumah tangga kami bukanlah suatu kebahagiaan. Hal itu membuat saya berpikir jika sendiri mungkin saya akan lebih bebas.” Sang suami, Rudi lebih banyak diam untuk meredam keadaan dalam menanggapi sikap dominan dr.Tini. “Saya tidak pernah menimpali, karena kalau saya lawan dengan kekerasan akhirnya masalah akan menjadi semakin besar.” Namun Tuhan begitu mengasihi keluarga ini, Dia menggunakan suatu peristiwa yang sekalipun menyakitkan namun membentuk keduanya menjadi semakin indah. “Awal-awalnya, saya merasakan sesuatu yang berbeda pada diri saya. Saya sempat terpikir, apa benar saya yang sehat seperti ini bisa terkena kanker. Tapi kanker dimana? Tapi saya selalu menepis pikiran buruk itu. Namun saat saya sedang bersaat teduh, pikiran itu muncul berulang-ulang dalam pikiran saya. ‘Tini, jika kamu terkena kanker apakah kamu siap?’ Hal ini membuat saya sangat kuatir, karena pikiran ini sering muncul.” Akhirnya, pikiran buruk itu menjadi kenyataan. Suatu pagi, pada saat dr.Tini sedang sikat gigi, segumpal darah keluar dari hidungnya. Hal itu ditunjukkannya pada sang suami, dan membuat keduanya merasa terpukul. Untuk meyakinkan diri, dr.Tini menjalani citiscan, yang hasilnya adalah positif kanker nasofarin. “Waktu hasil citiscan keluar, dan positif kanker nasofarin, saya hampir ngga bisa bicara apa-apa. Karena sebagai dokter saya tahu bahwa kanker nasofarin itu suatu kanker yang sangat ganas, dan perjalanannya sangat cepat, dan secara ilmu kedokteran itu termasuk kanker pembunuh.” Pengobatan yang harus dr.Tini jalani adalah satu paket radiasi sebanyak 35 kali dan juga kemoterapi lewat infus seminggu sekali. Namun proses pengobatan ini membuatnya mengalami banyak penderitaan, dan kesehatannya semakin memburuk. “Pada waktu radiasi, yang ditembak memang titik kankernya. Tetapi sinar radiasi itu merusak jaringan disekeliling kanker. Akibatnya, muka saya pun menderita luka bakar. Selain itu akibat radiasi yang harus saya jalani setiap hari, seluruh rongga mulut saya awalnya seperti sariawan. Namun makin hari semakin parah. Dan mulai pada penyinaran yang kesepuluh, saya sangat sulit untuk makan. Bahkan untuk minum air putih saja sangat pedih. Dan ternyata lukanya bukan hanya di rongga mulut, tetapi juga di tenggorokan, sehingga sewaktu saya paksakan untuk menelan, saya merasa tenggorokan saya seperti disayat-sayat dengan pecahan beling.” Rudi begitu sedih melihat keadaan istrinya. Namun dia tetap mempercayai bahwa Tuhan sanggup memberikan kekuatan kepada istrinya untuk menjalani semua pencobaan ini, bahkan ketika sang istri merasa lelah berjuang melawan penyakitnya, dan sering kali merasa ingin menyerah. “Istri saya bilang, dia sudah ngga tahan dan ingin tidur selamanya. Tetapi saya menjerit kepada Tuhan, dan bilang ini ngga boleh. Saya menangis dihadapan-Nya, saya tidak ingin ditinggal oleh istri saya.” Disanalah dr.Tini melihat begitu besar kasih sang suami dan anak-anak kepadanya. “Disitu saya melihat suami saya dan anak-anak berjuang. Mereka selalu minta, ‘Mama jangan pergi’. Suami saya mengatakan bahwa dia membutuhkan saya. Mereka mengatakan bahwa mereka semua sangat mengasihi saya. Mereka terus menyemangati saya, ‘Pasti bisa, susu ini pasti bisa dihabiskan. Mama pasti sembuh.’ Dan juga, Tuhan Yesus selalu ingatkan saya pada perjamuan kudus, bahwa bilur-bilurnya telah mengangkat segala sakit penyakit saya. Itu yang membuat saya kuat.” Karena rasa sakit yang luar biasa, dr.Tini sangat sulit untuk tidur. Namun ketika dia membuka mata, bahkan pada pukul 2 atau 3 pagi, dia melihat suaminya sedang tersungkur berdoa kepada Tuhan, memohon kesembuhan atas dirinya. Lewat dukungan doa dan perjuangannya melawan kanker itu dengan terus memegang janji Tuhan yang dibacakan oleh suaminya setiap hari, dr.Tini disembuhkan secara total dari penyakit kanker yang mematikan itu. “Waktu saya menjalani proses yang Tuhan ijinkan ini, dan setelah semuanya berlalu, melihat perjuangan suami saya begitu sabar dalam merawat saya, saya baru sadar bahwa Tuhan menempatkan seorang suami yang tepat bagi saya. Kami berdua saling melengkapi. Yang unik dan begitu luar biasa, saya tidak tahu mulainya dari mana, setelah saya sembuh saya merasa jatuh cinta lagi kepadanya.” “Yang membuat saya bahagia dan begitu berterima kasih kepada Tuhan adalah karena Tuhan campur tangan dalam kesembuhan istri saya, dan juga membuat keluarga kami kembali harmonis,” ungkap Rudi. Hal yang sama juga diungkapkan dr.Tini,”Saya bersyukur luar biasa karena Yesus begitu baik. Dia begitu mengasihi saya, sebelum saya mengasihi Dia. Bahkan pertolongannya begitu nyata, pada saat saya mengalami saat-saat sulit. Hari ini, apa yang saya ucapkan bukan lagi teori-teori ilmu kedokteran, tetapi pengalaman hidup saya bersama Yesus.” (Kisah ini sudah ditayangkan pada 4 September 2008 dalam acara Solusi Life di O’Chanel). Sumber kesaksian: dr.Tini Setiawan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar